SAYA TIDAK TAKUT UNTUK TIDAK GANTI GANTI AGAMA


1298579810699239783
Anak ayam ini jalannya nunduk, malu melihat calon pemakannya debat ayam dulu apa telur dulu.


Kalau menurut saya, bukan masalah di dogma atau tidak. Ada yang dinamakan jodoh.

Tanpa mengurangi hormat saya pada agama lain, dari SD sampai SMA saya rasanya lebih dekat ke Kristen. Di rumah dapat pendidikan agama secara traditional, Buddha, Khong Hu Cu dan Taoisme. Di sekolah, karena saya sekolahnya di Negri SD dan SMP, tidak ada mata pelajaran agama Buddha, saya ikut pelajaran agama Kristen. Digabung Protestan atau Katolik. Bahkan dulu sering ikut liturgi dan sekali-kali ikut koor… makanya saya bisa nyanyi…. hihihihi

Nah, mengapa saya katakan jodoh. Kelas 1 SMA saya sudah paling bawel karna masuk ke sekolah Yayasan (abang kebetulan jatuh kaya, jadi bisa masukin saya ke Swasta yang SPP nya sampai 75 ribu waktu itu) baru pertama kali belajar agama Buddha. Protes terus pada bu guru atau pak guru. Terutama menganai TUHAN. Yang di Buddha pada awalnya saya rasa, kok gak tegas nih Sidharta. Bilang aja gak tau udah.

Lama lama seiring dengan semakin dewasanya saya. Kelas 2 SMA saya sudah merasakan bahwa ini ajaran yang paing sesuai dengan liarnya otak saya. Ini yang disebut dengan jodoh.

Jodoh itu bagi saya datang dari diri sendiri bukan orang lain. Tidak ada yang mengajak ngajak saya masuk agama apa saja. Keluarga juga sangat toleran. Dari 12 bersaudara, kami ada yang Muslim ada yang Katolik ada yang Protestan. Yang Khong Hu Cu paling banyak. Yang menganut Buddha beneran, mungkin cuman saya.

Kenapa saya tidak mau pindah agama.

Buat apa? Bila saya merasa apa yang diajarkan guru agung saya sudah memuaskan saya? Apalagi di ajaran agama saya, misalnya saya mau belajar dari Alquran atau Alkitab silahkan saja. Bhineka Tunggal Ika itu semboyan dari ajaran agama saya.

Jadi, tanpa pindah agama pun, seorang Buddhis bisa belajar agama apa saja.

Dan saat ini saya merasa tidak ada masalah. Saya masuk masuk saja dengan agama apa saja. Ngobrol agama ayo… silahkan, saya bisa menanggapi dengan (saya rasa) cukup jernih, tanpa harus mengkritikisi prilaku. Karena mengkritisi prilaku itu tak ada gunanya, itu urusan masing masing. Rasain karma mu sendiri.

Yang meransang imajinasi dan nalar saya itu membincangkan karakteristik, sejarah dan dasar dasar prinsip bagaimana supir masing masing agama menjalankan kendaraan ke surga nya.

Itu produktif. Dan saya tidak harus melempar granat ke sana sini. Dengan prinsip damai dan ‘kelewat’ netaralpun, saya rasa saya bisa berbagi kedamaian dengan siapa saja. Paling tidak, sudah saya buktikann di keluarga besar saya.

Demikian kanjeng Panjenengan. Agama adalah hak asasi. Mau pndah pindah agama monggo. Mau ngotot pake yang usang juga monggo… mau gak pake juga monggo… Gak ada masalah…  Tapi kalau saya TIDAK mau tukar tukar agama, masa ini karena takut? Karna takut dibilang takut, lalu keluar masuk agama? Itu benar benar penakut. Yang paling penting…. Ah, gak ada yang penting! tetep.
.
Traktor Lubis menggelindingkan



Salam - Traktor Lubis  
Artikel Yang Berhubungan Badan:


0 Response to "SAYA TIDAK TAKUT UNTUK TIDAK GANTI GANTI AGAMA"

Posting Komentar

powered by Blogger | WordPress by Newwpthemes | Converted by BloggerTheme