Batalion



Dia seperti juga anak-anak lain di desanya. Pakaian compang camping. Bekas ingus yang menghitam di muka berwarna coklat muda. Berlarian bersembunyi agar tidak dapat dicari teman bermainnya dalam permainan batalion.

Batu bata ukuran setengah disusun berurutan ke atas oleh yang sedang bertugas jaga. Semantara yang jaga menyusun, 5 orang temannya yang lain berlarian berhamburan ke segala arah bersembunyi.

Selesai. Dengan nafas memburu dia melihat sekeliling. Menjari-jari dengan matanya yang tiba-tiba menjadi sangat tajam. Ke segala arah. Semak-semak daun teh. Pohon durian. Semak nenas dan gugusan tebu di belakang pagar kayu yang dicat dengan solar kotor.

Ada gerakan di ujung halaman wak Asan.

Dia mendekat..“Amir…..” teriaknya girang.

Amir muncul dengan wajah lesu. Dan muka pucat pias, karena membayangkan akan menjadi petugas jaga yang harus mencari teman-teman yang bersembunyi bila tak satupun temannya yang bisa meruntuhkan bataliyon yang disusun Darbi.

Melihat sekeliling lagi. Semangatnya menjadi-jadi saat melihat gerakan di semak tebu. Sudah ke 3 kali ini dia yang jaga. Jangan sampai gagal. Teman-temannya sudah bersemangat membuat dia ‘locak’ - berjaga terus-terusan sampai nangis dan enceng…..

“Togi….” teriaknya senang, mengenali sosok gempal yang bajunya selalu terlihat kekecilan, karena badannya yang besar.

Togi sedikit lebih santai daripada Amir, karena Amir yang kedapatan pertama kali, dia sama sekali tidak masuk kandidat yang bakal jaga..Berarti tinggal 3 lagi yang harus ditemukan. Darbi melap keringat segede jagung di jidat dan mukanya, menyebabkan bekas ingus di comeng mukanya sedikit melebar ke segala arah dari hidungnya.

“Rano……….” teriak Darbi kegirangan. Saat menyadari temannya yang paling hitam ini ternyata bersembunyi di balik pohon jambu bol.

Dua lagi…. Dan yang dua ini cenderung sangat lincah, dan berbadan jauh lebih kecil sehingga lebih gesit. Darbi menyiapkan nafasnya. Sangat waspada sekarang. Hati-hati dia mendekati ‘bataliyon’nya lagi. Berusaha untuk tetap dalam jangkauan.

“Guritno….” kali ini sekilas senyum simpul dibibirnya saat melirik Amir yang sudah jongkok mengkerut dekat batalyon. Tinggal satu. Yang paling susah.

Darbi mengamati lebih hati-hati. Halaman antara jalan dan perumahan penduduk desanya ini lumayan luas dan bersemak lebat. Susah memprediksikan dimana Anto bersembunyi.

Ada sedikit kekhawatiran bila sampai gagal di ujung keberhasilan ini. Jadi, harus ektra waspada.

Eph…. ada gerakan di sudut kiri rumah Ani. Ragu…. Darbi mendekat pelan-pelan. Tapi…. Hmm… harus berani tanggung resiko. Paling bakal ada lomba lari sengit.

Darbi mendekati pinggiran rumah Ani. Dan… Ini tidak benar. Ayah Ani sedang membenarkan lingkar sepeda janda.

Walah…. sekitar 50 m, ada sosok yang sedang berlari ke arah batalyon….

Darbi berlari kencang memutar arah. Berkejaran dengan waktu. Amir sangat tegang. Darbi apalagi. Harus mendahului kalau tidak mau jaga lagi. jarak mereka sama sepertinya. Namun Anto diuntungkan peraturan, karena hanya harus meruntuhkan bata yang terseusun agar Darbi jaga kembali.

Nafas Darbi berkejaran. Seperti juga Anto yang bersemangat kancil. Mau tak mau….

Darbi menangkap Anto disaat yang genting. Jangan sampai batalyon jatuh. Kaki Anto keluar sebelah menendang. Darbi menangkisnya. Sangat cepat….. Batalyon tinggal sesenti lagi..

GAGAL……

“Anto….” teriak Darbi kesenangan. Dan Amir sudah seperti kertas. Membayangkan jadi penjaga.

Dengan mantap Darbi menendang batalyon yang tadi disusunnya. Untuk segera dengan teman yang lain berpencar bersembunyi……

Siang yang menyenangkan….

No risk no glory…. begitu kata orang bule kelak….

Artikel Yang Berhubungan Badan:


0 Response to "Batalion"

Posting Komentar

powered by Blogger | WordPress by Newwpthemes | Converted by BloggerTheme