MITA FOREVER, TIRA FOREVER

12985744331536337996 

Kisah berikut ini adalah fiksi, kalau ada persamaan nama, tempat, keadaan dan kebandelan, itu tandanya anda mulai memirip miripkan diri pada saya.  Hahahaha, sorry becanda... Kita semua punya pengalaman kaya gini, hanya mungkin pengalaman saya didramatisir jadi tulisan kaya gini. Ah... dipersilahkan.  Soundtracknya jangan lupa, di paling bawah.




12985742382037353894.

MITA FOREVER

Tak ada satupun yang abadi. Sesuatu yang kelihatannya baik baik saja… bisa saja tiba tiba meledak menjadi busa di depan muka. Kadang mengakhiri sesuatu itu susah, kadang bisa mengalir seperti air… tapi jelas tak terduga kalau sebuah akhir bisa menjadi sebuah kelucuan yang agak sukar dibayangkan bisa terjadi.

Begini ceritanya….

Pacaran dengan Mita itu singkat saja. Sempat terganggu perasaan was was karna hubungan baik dengan bapaknya. Baik via kantor tempat aku bekerja, atau via tempat nongkrong bareng layaknya orang dewasa yang sudah bukan remaja lagi di cafe Bima. Satu yang aku tak suka dari pak Mitro, dan ini tak pernah kuterima ajakannya, nyabu….

Orang orang disekitar mungkin bingung melihat aku. Biasanya, chinese itu brangkasnya tentara yang masuk ke cafe Bima. Rombongan tentara atau polisi kerap masuk ke cafe itu dengan seorang cukong misal, yang mereka sebut sebagai brankas… Si Cina yang malang selalu menjadi tukang bayar segala bon yang mereka buat, baik bon padat, bon cair maupun bon lendir.

Beda dengan aku dan pak Mitro yang walau bagaimanapun kuhormati.

Malam itu pak Mitrio sedang bersamaku di sebuah kamar di cafe, dengan simpanannnya yang aku lupa namanya… dan sudah pasti gak usah diingat ingat, pasti nama palsu. Ada juga beberpa orang ketua OKP. Lantai 2 memang dibuat ber kamar kamar semacam vip room. Jadi, maaf maaf saja, Kalau sudah masuk kamar vip ini, gak bakal ada karaoke, yang ada perangkat stereo dipakai buat muter musik. Kebanyakan house music, karna pengunjung sudah bawa pil sendiri atau nyabu… pihak cafe memang hanya menyediakan alkohol.

Dan, tak ada sipil yang brani seperti ini. Yang teler narkoba di vip room kalau gak tentara yah.. polisi paling gak.

Pak Mitro malam itu agak tinggi. Tak jarang si cewek simpanan dibentak bentak juga. Aku risih juga. Untung tidak ikut Lena, hehehehe…. Gak lama. Ada telp masuk.

Aku melirik…. Mita… OMG.. aku segera permisi pada pak Mitro untuk keluar ruangan yang bising.

“yah sayang….”

“Bang… abang dimana? aku tunggu di simpang 4 yah… penting. Mita sama mama….”

Gak sempat aku bertanya ada apa, telp ditutup.
….
PAk Mitro memandangku curiga waktu aku bilang mau cabut dulu, ada kerjaan mendadak…

Akhirnya dia lepas juga……”hati hati bang….”
Aku menuju tempat dimana Mita sudah menunggu. Kulirik mobil di depanku. Ada ibunya, benar. Aku turun, setelah parkir manis. Dan Mita membuka pintu turun juga untuk bicara…

“Mama tuh udah nangis nangis daritadi….”

“Kenapa?”

“Biasalah perang dunia ke 3…. Malam ini Abang harus temani Mita sama mama ke Indra Pura…”

“Ha?…. Ngapain malam malam kesono… emang besok kamu gak sekolah…?” Aku melirik jam tanganku yang sudah menunjukkan pukul 11.00 malam.

“Mau melabrak lontenya bapak….”

OMG OMG…… Bapak kan sama lontenya barusan sama abang di cafe Bima, Mita bego…. begitu aku dalam hati. Dan itu jelas bukan urusanku sama sekali…..

“Begini… begini…. Kamu serius mau ikut campur urusan bapak ibumu ini?…..”

“Yah serius… ini kan mama Mita…..”

“Benar… Tepat sekali. Tapi harus dipertimbangkan; satu, bagaimana kalau di Indra Pura tidak ada bapak? Bagaimana kalau memang ada bapak?”

“Kata temen mama memang ceweknya anak Indra Pura…”

“Bagaimana kalau teman mamamu cuman sok tahu… ibaratnya memang tukang kompor 24 sumbu atau LPG?”

Mita terdiam.

“Terus…. kalau seandainya ntar bapakmu ada, juga simpanannnya…. Kalau ketemu pasti berantem…. Kamu mau memihak siapa?”

“Mama dong….”

“Pasti….. Dan, bapakmu akan mukul mamamu di depan simpanannya…. Tentara macam dia jangan dipermalukan. Bukan masalah lagi siapa yang beanr atau salah. Mungkin kalau sempat dipermalukan, yang ada keduanya akan cerai…. bukan…. bukan bapakmu dengan simpanannnya… tapi bapakmu dengan mamamu….”

Mita diam lagi, menggigit bibir….

“Jadi gimana…..”

“Kita bawa mama keliling keliling…. biar paniknya ilang dulu, baru bawa pulang ker rumah…..”

Tiba-tiba telpon bunyi….. Buset, pak Mitro….

“Yah, pak… ini bentar lagi ada urusan dikit…. 15 menit deh… yah… tunggu saja pak… bentarrrr lagi…. Udah selesai kok…..”

“Bapak yah…?” tanya Mita penuh selidik….

“Tul…. curiga mamamu salah tuh…. Bapak lagi ada pertemuan dengan ketua ketua OKP di Kisaran ini. Aku disuruh kesana sekarang… Maaf yah Mita, jadinya abang gak bisa nemenin…. Kamu jalankan saja saran abang… Oh, ntar aku ngomong sama ibu dulu……”

Tapi, memang gak ada yang bisa dibicarakan dengan perempuan ini (ibu Mita). Bagaimana bicara dengan orang yang sedang mabuk, menangis dan agak agak histeris…. aku hanya ibah melihat giginya gemelatukan berusaha ditahan….

Akhirnya aku kembali menemui pak Mitro. Selamat dah….


Sampai besok besok gak ada kejadian apa-apa… aman-aman saja…

Aku juga pacaran cuman sebentar saja dengan Mita, paling 6 bulanan deh…. disela sela sesi latihan band yang semakin kuanggap gak begitu menantang lagi. Yah, aku melakukan segalanya dengan dia. Tapi selalu kujaga, tidak sampai nyoblos…. Ingat bapaknya… dan ingat, ini masih anak sekolah… Ponakanku banyak…. Yang cewek seumuran Mita juga banyak… Klise kalau kubilang takut hal yang sama terjadi padaku.

Tapi begitulah adanya…. kami pacaran dalam arti yang sepenuhnya. Bukan kumpul kebo atau kelewat batas seperti anak anak jaman sekarang.

Tak lama kemudian, Mita sudah selesai SMA nya dan berniat melanjut sekolah di USU. Maka aku menyarankan habis ujian untuk segera mendaftar di bimbingan test yang bagus di Medan. Pak Mitro juga setuju atas usulku. Aku didaulat membawa putrinya ke Medan, untuk membantu menguruskan segalanya.

Aku sarankan Mita seperti aku dulu, pilihan pertama di universitas di Jawa sebagai cita cita paling tinggi. Pilihan ke2 harus jebol di USU Medan. Mita jebol di USU….

Aku merekam sebuah lagu yang dulu dipaksakan bapaknya untuk kunyanyikan lewat karaoke. Viva Forever…. dengan lirik diganti menjadi Mita Forever…. lagu yang dimasa masa mendatang bakal menjadi kenangan yang paling susah kulupa untuk fase ini…

12985742841633916226.
TIRA FOREVER

Mencintai itu siksaan. Membentuk sebuah komitmen itu lebih berat lagi. Ibaratnya tangan merdeka, kau ikat pada sebuah gari milik polisi. Bukan buat mengekang, tapi buat beberapa rambu rambu peraturan yang harus dijalankan. Mencintai orang lain juga berarti menghilangkan sebuah hak asasi… hak untuk bebas dari rasa takut.

Dengan mencintai dia, akan membuat saya berpikiran tentang dia. Dengan menjalin hubungan dengannya aku berarti rela untuk takut bila dia meninggalkanku. Bukan takut dia selingkuh, tapi takut yang lebih dalam. Takut pada putusnya sebuah rasa yang sudah pernah terjalin. Rasa yang sangat sukar untuk dilukiskan. Bahkan aku sangsi Leonardo Da Vinci akan sanggup melukiskannya.

Takut… takut…. tunggu tunggu yah sayang…. lima tahun lagi kau datang…. hehehehe… bukan seperti Anggun jadul, aku bahkan pernah, beberapa kali malah, dimintai tolong temen, buat ngetes pacarnya… Kadang kadang gak habis pikir. Tapi kalau kembali ke teori rasa takut. Yah, membantu temen yang sedang takut pacarnya gak setia sah sah saja…. Tapi disisi yang lain. Pernah gak sih kebayang gimana perasaanku?….

Hal hal yang kurasakan kaya gini, mirip mungkin dengan yang pernah dirasakan Tira…..

Yah, Tira. Ini adik kelas si Mita.

Jadi, selesai sesi Mita, gak tau kenapa, siang siang aku suka nongkrong di sebuah wartel di dekat sekolah Mita dulu. Sebenarnya sudah temen lama dengan pak Is pemilik wartel. Tapi sebelum saat ini, kalau ke wartel hanya sekedar silahturahmi, cerita mobil baru dsb saja….

Tapi beberapa bulan setelah era jomblo, aku sadar, setiap habis makan siang, pasti singgah ke wartel.
Disitu ada Tira…. Aneh juga… kok dulu aku bisa suka dengan yang muda-muda. Sekarang berani lantang bersuara “AKU BUKAN PEDOFIL!!!!!” wekekekeke….. Mungkin karena jaman berubah. Makanya aku juga berubah.

Nah… nah…. nah…. Aku harus menguatkan diri, untuk mengekang sedikit nafsu narsis… Inikan tentang Tira… cewek tomboi manis putih, jauh lebih cakep daripada Mita.. Namun sayang otaknya tak sebanding dengan fisiknya. Jadi, rada rada kurang bijaksana, agak kolokan, dan (biasalah) suka bermanja manja.
Tira anak Melayu. Bapaknya kerja di PT. BSP (Bakrie Sumatra Plantation). Dulu sempat aku tanya, kenapa di namanya ada OKA…. di plat nama di depan rumahnya juga….. Dengan tersipu sipu dia menjelaskan. Bahwa OKA itu singkatan dari ‘Orang Kaya’…. Ha? Wakakakakaka, aku tertawa keras keras. Pede amat ini anak pikirku….

Akhirnya dijelaskan dengan emosi dikit, bahwa sudah khas kalau di suku Melayu yang bangsawan, pakai nama belakang, itu menandakan mereka kira-kira berdarah biru…. Oh…. begitu rupanya.
Itulah awal perkenalan konyol dengan Tira.

Malam minggu aju jadi suka nongkrong di wartel. Disitu Tira yang masih sodaraan dengan pak Is sering bantu bantu jaga sampai jam 9 malam….

“Malam minggu gak pacaran bang….” celutuk Tira gak pake malu…

“Gak ada yang mau….kamu aja gak mau” umpan aku samber.

“Hehehehe…. dasar tukang gombal…” buset nih anak, bandel juga.

Menangtang kan…. Tapi dengan intensif, berminggu minggu. Akhirnya di minggu ke tujuh, Tira berhasil kuboyong ke Misop Bacok. Makan misop bareng, di malam minggu. Orang sekarang bilang itu kencan. Tapi aku sih, jaim… ngotot itu bukan kencan.

Tapi bukan kencan itu menjadi awal hubungan manis dengan Tira, yang kerap tanya seperti ini….
“Bang, kita kapan begini….” katanya sambil merangkaikan jari telunjuk kanan dan telunjuk kiri membentuk ikatan. Maksudnya, kapan aku melamar dia jadi pacarnya….

Kalau udah gitu, gak akan kujawab. Tapi keciumi sampe diam.
…………
Ibu Martono datang ke kantorku. Ibu Martono adalah istri dokter yang dikontrak PT. BSP.

“Vin… ibu denger kamu pacaran sama anak si anu ya….?” tanyanya tanpa ragu.

Asal tahu saja, rumah dr. Martono sebelahan dengan tempat aku kerja. Pak dokter orang yang baik hati. Dokter kaya raya yang suka membantu masyarakat miskin. Tak jarang pelanggannya yang kurang mampu dijarum, dikasih obat, lalu kalau mau bayar malah kena semprot pak dokter.

Pak Dokter yang malang…. rumah tangganya berserakan, sewaktu ibu Martono ikutan jadi caleg sebuah partai gurem di masa masa pemilu. Partai si Ibu Martono kalah, eh… si Ibu malah main gila dengan Sekretaris partainya… Perceraian tak bisa dielakkan. Keluarga besar anak anak dokter Martono membekukan segala aset keluarga atas nama keluarga mereka. Bahkan sempat heboh di Kisaran waktu itu, karna sampai ada siaran di radio lokal soal pernyataan putus hubungan…. Entah si Ibu yang durhaka atau anak yang durhaka gak jelas….

Tapi yah begitu, Ibu Martono memang suka campur urusan orang lain. Termasuk hubunganku dengan Tira. Biasalah ibu rumah tangga yang kebanyakan nonton sinetron, dikiranya aku mungkin akan menikah dengan Tira… Sejujurnya, pada saat Ibu Martono datang ke tempatku itu, aku sedang jenuh jenuhnya dengan Tira. Hubungan sudah tidak begitu bagus. Bukan karna apa-apa. Tapi sekelumit rasa bosan. Ditambah lagi perbandingan perbandingan, yang belakangan kusadari salah, pada diriku, antara Mita dan Tira.

Oh iya, hubungan asmara dengan Mita menghilang begitu saja beberapa waktu setelah dia kuliah di Medan. Mungkin dia dapat pacar baru atau gimana, aku gak jelas juga. Sampai kemudian tak lama, pak Mitro beserta keluarga pindah ke Binjai…. kabar dari mereka tak ada lagi yang sampai padaku kecuali yang berikut ini…..

Aku menunggu nunggu beberapa minggu lagi Tira akan ujian semester lulus lulusan SMA. Jadi dianya juga agak enggan diganggu kan. Nah, ini kebetulan. Akupun menasehati dia agar belajar bagus bagus, supaya bisa masuk PTN, dalam hatiku seperti Mita, hihihihihi.

Tira tak pernah lulus UMPTN. Tapi dia tetap ngotot kuliah di Medan. Dan ayahnya setuju, apalagi aku. Selamat jalan kekasih… kejarlah cita cita…. hehehehehe. Tapi, bukan lagu itu yang aku rekam untuk jadi kenang kenangan buat Tira. Kembali lagu lawas, tinggal ganti lirik dikit. Viva Forever, jadi Tira Forever, wakakakakakaka….

Pada masa ini juga aku dimutasikan ke Padang Sidempuan, kira kira 300 an km dari Kisaran. Waduh… mutasi yang sangat sangat tidak mengenakkan. Band otomatis vacum. Aku benar benar merana.
Tapi Tira selalu menghubungiku. Paling tidak seminggu 3 kali dia telpon. Aku kadang males ngangkatnya. Sampai ibu kos, bu Iyat gondok aku mintai tolong bilang aku gak ada kalau Tira nelpon.

“Ibu gak mau Vin….”bentak bu Iyat bengis.

“Tolongggg bu… ” kataku sememelas mungkin.

“Gak bisa, ini bulan puasa, kalau ibu bohong, puasa ibu batal….” wekekekeke, aku baru ingat itu rupanya bulan ramadhan.

Jadi, walau aku sudah pindah ke Padang Sidimpuan, hubunganku dengan Tira masih lanjut. Lama juga jalan dengan nih anak, hingga libur lebaran, akupun pulang ke Kisaran. Bukan karna Tira sebenarnya, tapi karna mau main musik bareng temen temen. Sekaligus silahtuhrahmi lagi. Karna, feelingku, aku gak lama di Padang Sidempuan. Karena disini aku cuman dapat tugas membereskan piutang yang tidak tertagih, banyak banget, Kepala Cabang yang lama udah di PHK karna gak mampu.

Aku pulang Kisaran untuk liburan Idul Fitri.

Pada masa ini, cikal bakal lagu Mama Don’t You Cry udah terkonsep di kepala. Kordnya udah dapat, nada untuk reff juga udah baku. Tinggal arransemennya masih ngaco. Di saat ini model lagunya masih slow rock ala Bon Jovi. Karna lagu ini, kan aku tulis bareng Opik yang memang anak metal.

Ketemu Tira lah lebaran. Ke rumahnya tentu saja. Dikasih makan enak, minum enak, idupin kipas angin, “Gak usah taro situ piringnya… biar aja di meja… nanti Tira yang bersihin….” ibunya panik waktu aku membawa piring abis makan lontong ke meja cucian.

Lalu, katanya mau ke tempat nenek.

“Ayo…..” aku ajak.

Aku dan Tira saja, bapak ibunya seperti maklum, anaknya mau pacaran, udah lama gak ketemu. Hihihihi.

Berdualah di mobil. Aku nyetir. Lalu Tira masukin kaset ke tape mobil.

Melewati bekas rumah pak Mitro. Hayalanku melayang jauh. Tira nyanyi, mengikuti suara musik di mobil.
“Mita forever, I’ll be waiting, Everlasting, like the sun, Live forever, For the moment Ever searching for the one…..”

Aku masih belum memperhatikan…. aku masih memalingkan wajah melihat sekilas rumah pak Mitro dulu.
Kepalaku ditarik Tira, tapenya digedein, memang sudah sampai reff akhir yang diulang ulang. Mukaku kontan merah. Mobil rem mendadak, kaget, malu, campur aduk.

Tira memandang aku sadis.

“Kita singgah ke rumah kak Mita aja bang…..” katanya datar, bibirnya jadi tipis sekali.

Darahku naik ke atas kepala.

“Maksudmu apa……?” aku mendelik.

“Alah pura-pura lagi…..” balesnya santai tapi judes.

“Dengar….. bukan urusanmu dengan siapa aku pacaran sebelum aku pacaran dengan kamu. Aku juga tak pernah tanya sampai mana hubunganmu dengan si Tambos….” sengaja aku sebut mantannya juga.
Lalu, mobil aku jalankan, kencang. Sampai dirumah nenek Tira aku turunkan. Aku turun sebentar, lalu pamit walau ditahan nenek.

Kejadian itu bikin hubunganku dengan Tira putus. Walau berulang kali dia sms bahkan kirim surat minta maaf. Tapi aku udah eneg.

Ternyata kejadian begini.

Anak anak kisaran yang kuliah di Medan, rupanya biasa nyewa sebuah rumah patungan beberapa orang untuk ditempati bersama. Nah… sewaktu waktu aku ketemu dengan Mita, dia cerita…
“Jadi bang lucu. Si Tira sudah cerita sama semua temen satu rumah, sama Angel, sama Idah. semua lah, bahwa dia pacarnya abang” aku menyimak cerita Mita.

“Kamu gak cerita pernah jadian dengan abang juga” aku mendekatkan duduk.

“Pretttt…. Dikira rebut rebutan cowok lagi ntar” mau kucubit pipinya.

“Terus terus…..” penasaran banget…

“Nah…. hampir tiap hari kalo ngidupin tape yah lagunya kaset yang abang kasih ke dia itu….. Tira forever… Tira forever…..” dia nahan senyum tapi senyumnya dengki.

“Temen-temen kos lain gak ada yang tau ada Mita Forever?” aku heran.

“Gak….. Mita gak pernah idupin…..” kata Mita tegas, aku makin heran.

“Kenapa? gak suka yah?… atau udah gak ada rasa sama sekali walau dikit?” aku was was kali ini.
“Bukan…. takut rusak… heheheheh” plong deh…..

“Jadi kok dia bisa tahu?”

“Gara gara mau ujian kemaren…. udah mengganggu…. udah suara kasetnya mulai kusut… ngidupin kenceng banget. Mita gak konsen. Giliran lagunya abis, di akan biasanya muter lagi pita kasetnya… Nah, Mita idupin….. kenceng…. sampe satu kosan denger… hahahahahaha” Mita ketawa kencang banget.

Kaset Mita diminta Tira, Mita tak kuasa menolak….

Kubayangkan bagaimana malunya Tira di tempat kost rumah sewa mereka yang anak anak dari Kisaran…..


Maafkan aku Tira…. aku memang buaya… wakakakakakakakakakaka



.




12985746372110268920

Jakarta, 25 Februari 2011

Salam - Traktor Lubis  
Artikel Yang Berhubungan Badan:


0 Response to "MITA FOREVER, TIRA FOREVER"

Posting Komentar

powered by Blogger | WordPress by Newwpthemes | Converted by BloggerTheme