Mau Nulis? Jadilah Orang Usil


Kalau rasa ingin tahu ini tak ada, bagaimana mungkin bisa menuliskan hal hal seputar kehidupan? Memang ada penulis yang hanya menuliskan hal hal tentang dirinya sendiri.  Barangkali ini lebih kepada menulis seperti di Diary sendiri.
12984069591758512103

Naluri menulis itu kadang usil.  Apa saja yang dilihat, didengar, dirasa mengusik perhatian, bisa menjadi bahan tulisan.  Dengan sedikit imajinasi dan data data yang sekarang sudah semakin gampang didapat, bisa menjadi sebuah bahan untuk dikembangkan menjadi tulisan yang enak dibaca.

Enak Di Baca

Yah, enak dibaca itu harus, bila anda mengharapkan tulisan anda dipublikasikan di media umum.  Baik koran, situs seperti Kompasiana ini atau di blog pribadi anda yang dibuka untuk umum.

Dalam dunia populer, istilah bermanfaat, menarik, aktual dan inspiratif akan sia sia belaka bila anda tidak bisa merumuskan tulisan anda menjadi suatu ungkapan yang relatif enak dibaca.  Misalnya sebuah tulisan paten mengenai bahasa pemograman atau bahasa mesin.  Ini bahan tulisan yang sangat berat.  Penulisnya harus bisa mensiasati bagaimana ilmu yang dimilikinya bisa ditransperkan secara enak kepada khalayak yang membaca.

Saya ibaratkan dengan guru.  Guru yang enak ngajarnya seringkali tidak enak orangnya.  Maksudnya, dari pengalaman pribadi saya, guru killer lebih bisa menekankan apa yang diajarkan pada murid muridnya dibandingkan guru yang santai.

Guru yang santai sangat menyenangkan murid.  Apalagi guru yang relatif permisif membiarkan murid ribut saling ngobrol di kelas sewaktu dia mengajar. Hal ini terutama berlaku pada murid murid yang masih belum bisa berpikir secara menguntungkan untuk dirinya sendiri.  Katakanlah level SMP ke bawah di atas TK.

Tulisan yang enak dibaca tidak peduli pada genre.  Mau jenis tulisan apapun akan enak bila penulisnya bisa berkomunikasi dengan pembacanya.  Satu arah atau dua arah.

Banyak cara membuat tulisan menjadi enak.  Dalam pemilihan genre ini anda bisa mendapatkan inspirasi. Ada pembaca yang suka dipuja puji.  Ini bisa anda lakukan dengan menulis hal hal yang baik baik yang membuat pembaca anda terbuai.  Setiap kali membaca, biasanya orang akan membayangkan posisinya dimana dalam tulisan anda.  Kalau dia merasa tidak ada hubungannya dengan dia, jarang sekali dia akan tertarik.

Itu mengapa tulisan yang bersinggungan dengan agama seringkali menyentuh esensi dasar pembaca disini. Jika tulisan anda dimaksudkan untuk dibaca oleh orang yang suka dipuja puji, lakukan.  Jangan mengkritik atau menghujat.  Tapi buai dia dalam alunan taman bunga yang semerbak mewangi di tulisan anda.  Kalaupun ingin mengkritik, lakukan dengan sangat soft. Bayangkan molto kalau kesulitan.... hehehehe

Kemudian ada juga pembaca yang suka horor.  Dalam artian, suka dengan judul judul, tema tema yang menohok perhatian alias nendang. Kalau pangsa pasar tulisan anda ditujukan pada mereka, anda harus bisa ekspresif. Cari kata kata kasar untuk menggantikan kata kata yang sebenarnya halus.  Misalnya, ganti kata meninggal dengan mampus. Saya yakin anda paham maksudnya.

Sesuatu yang standar, bisa berubah menjadi bom dengan bahasa yang salah (atau sengaja dibuat salah). Kemudian ada lagi yang suka digelitik.  Lakukan segala cara untuk menggelitik pembaca jenis ini.

Namun diatas segalanya, anda dituntut peka.  Artinya anda harus berusaha tahu urusan orang lain.  Apa urusan orang orang di Mesir bila Husni Mubarak lengser.  Apa urusan pembaca anda bila agama anda saya tekuk tekuk. Apa urusan anda bila sebagian penulis melakukan kesepakatan vote untuk rating tulisannya.

Pikiran anda juga perlu sedikit iseng.  Iseng, dalam artian, anda harus tahu apa yang terjadi di sekeliling anda. Anda bisa menjadikan sebuah tulisan perasaan usil anda pada tulisan tulisan yang nongkrong terus di HL, atau yang bertengger lama di ter ter di Kompasiana.

Anda bisa memanfaatkan keusilan anda pada UUAP yang diterapkan pada Ariel.  Padahal mau FPI demon, mau hukumannya ngacok, mau sidangnya rekayasa.  Itu bukan urusan anda.  Tapi anda harus selalu ingin tahu.  Kalau tidak, tulisan anda tidak akan menarik.

Lalu melihat kelakuan umat beragama, seagama atau tidak seagama.  Ini memasuki wilayah berbahaya.  Tapi anda tetap usil. Keusilan anda bisa menjadi tulisan yang sangat 'enak' dibaca. Enak yang menyakitkan, atau enak yang melenakan, atau enak yang bikin malu, atau enak yang bikin anda kepingin terjun bebas dari gedung lantai sejuta.

Penulis penulis juga usil melihat puisi puisi yang tampik di kolom fiksi.  Yang gaya bahasanya tidak berkelas lah, gaya bahasa tidak mendidiklah. Apa lah.... Padahal kan itu bukan urusan anda.  Tapi kalau anda ingin menulis, dari keusilan anda ini bisa menjadi inspirasi untuk memberikan pandangan anda bahwa yang baik ini begini.... yang jelek begitu.

Peduli, iseng, perhatian, usil dan lain lain adalah rasa yang harus dipupuk secara positif agar anda peka dalam menilai hidup dan mengembangkan kemampuan menulis anda. Pada dasarnya usil itu netral.  Tergantung bagaimana anda memanfaatkan rasa usil yang terusik anda menjadi sesuatu yang enak dibaca.

Kalau tidak usil, bagaimana seorang reporter mau menekuni hidup sebagai reporter? Harus ada dorongan dari dalam dirinya yang bisa membuatnya tergerak untuk melakukan tugas tugas jurnalistik.  Perasaan ingin tahu yang besar, urusan orang lain atau bukan.  Pokoknya harus tahu.

Lalu, apakah usil ini bisa bermanfaat?

Megenai bermanfaat ini, tidak harus semua tulisan ada manfaatnya. Tapi rasa ingin tahu urusan orang lain alias usil ini, kadang kadang bisa bermanfaat juga ditangan anda. Bukan bagaimana adanya, tetapi mau menjadi apa anda.

NB: Usil yang dimaksud disini adalah; ingin ikut campur urusan orang lain, tapi dalam bentuk tulisan. Dikehidupan sehari-hari, saya sarankan jangan.... di pikiran saja, alias dalam hati.hehehehehe


Saking usilnya, nih traktor gak bisa diam!




Salam - Traktor Lubis  
Artikel Yang Berhubungan Badan:


0 Response to "Mau Nulis? Jadilah Orang Usil"

Posting Komentar

powered by Blogger | WordPress by Newwpthemes | Converted by BloggerTheme