Adu Montok Mariah Carey vs SBY

Salah satu harapan ketika pilihan dijatuhkan pada calon militer adalah, sebuah harapan pada kestabilan keamanan dan pertahanan. Inilah yg dulu ditunjukkan Jendral Soeharto saat suksesi kepemimpinan tahun 66. Soekarno yg sipil adalah seorang yg revolusioner. Semua potensi bangsa disatukan untuk satu tujuan, menyelesaikan revolusi. Ganyang Nekolim, Neo Kolonialisme. Aksi ini diterjemahkan dalam bentuk gerakan Ganyang Malaysia. Bahkan Soekarno menunjukkan pada dunia bahwa RI negara yg tidak bisa diatur oleh pihak manapun. Indonesia cabut dari PBB, membentuk Non Blok, Inggris kita linggis, Amerika kita setrika.

Soekarno lupa akan pentingnya stabilitas ekonomi. Ini sebenarnya permasalahan Indonesia yg paling mendesak. Harimau yang lapar akan menjadi sangat ganas.

Jendral Soeharto diluar konflik AD dengan PKI memahami kondisi harimau lapar ini. Politik mengedepankan keamanan pertahanan dan stabilitas politik sanggup membawa RI lepas dari masalah masalah yg bisa menghambat kemajuan ekonomi.

Saat itu Indonesia sempat menjadi favorite investasi dunia. Kemajuan yang diidam idamkan rakyat Indonesia yang praktis selama sekitar 20 tahun sejak merdeka revolusi terusssss.

Namun kestabilan politik dan Hankam berbanding terbalik dengan kebebasan berpendapat. Entah berapa banyak musuh politik yg harus masuk bui. Semua yg berbau Cina dilarang. Pers yg menyuarakan protes pada pemerintah dibredel, petrus berkeliaran, dan celakanya lagi, iklim negara yg demikian nyaman ini menghidupkan jamur jamur ekonomi. Konglomerat, monopoli Bogasari dan sejumlah kebijakan ekonomi yg berpihak pada orang orang di sekeliling Soeharto.

Orde Baru adalah contoh paling pas bagaimana kemajuan yg bisa dicapai secara maksimal oleh pemerintahan rezim militer. Hankam yang sudah pasti harus mengorbankan kebebasan. Hankam yg dicapai dengan menakut nakuti rakyat. Semu, karena bukan timbul dari kesadaran. Melainkan karena takut mati.

Lembaga Peradilan yang dilupakan. Seharusnya ini yang berfungsi menakut nakuti rakyat, bukan bedil bukan pestol. Rakyat tidak berani melanggar hukum, seharusnya karena takut pada hukum yang akan menjerat semua orang untuk menyabetkan pedang keadilan di leher siapa saja.

Itulah kepemimpinan militer.

Lalu kita masuk ke era reformasi. Kebebasan yang mendadak. Seperti bendungan yang jebol. Menenggelamkan banyak desa. BJ. Habibie membebaskan pers. Gusdur menciptakan pluralitas dalam persatuan yang saling menghormati. Mega yang membuktikan kesetaraan gender, serta Pemilu paling jurdil sepanjang sejarah republik.

Lalu kita masuk lagi ke era semi militer. Rakyat agaknya sadar pada bendungan yang jebol. Figur militer yang pendiam, berkharisma dan kebapakan, mungkin refleksi kerinduan pada kestabilan negara yg pernah dicapai Orde Baru.

Periode I, secara umum rakyat merasa pilihan mereka sangat tepat. Inilah figur ideal yang bisa melepaskan bangsa ini dari masalah masalahnya. Figur militer yang mencintai kestabilan, namun senantiasa berpikir dulu sebelum bertindak, tidak asal sruduk seperti banteng.

Tapi ternyata mikirnya kelamaan. Keburu mati dulu mikirnya belum selesai. Sosok militer yang seharusnya bisa tegas justru tidak kelihatan. Bahkan satu aplikasi di facebook, “apakah anda peragu” gambarnya SBY. Sedemikian parahkah? Sampai menjadi icon?

Karakter militer yang muncul justru: Undang Undang Anti Pornografi. Bredel buku Gurita Cikeas (bacaan kritis untuk dewasa), tapi bagi bagi buku gratis ke anak-anak sekolah yang belum melek politik.

Kebebasan pers yang semakin menurun. Dari kasus penganiayaan pada insan pers, sampai berita berita pencitraan sang penguasa. Kalau melihat ini saya jadi teringat dulu habis Dunia Dalam Berita TVRI selalu ada Laporan khusus. Isinya berita pak Harto gunting pita, tanya jawab dengan petani, Kompencapir dan sebagainya.

Bukan hanya itu, ternyata Kestabilan Keamanan dan Keamanan juga merebak. Konflik antar umat beragama semakin menjadi.

Ketegasan yang tak pernah kunjung tiba. Selain retorika di bibir saja.

Anehnya kepemimpinan dari militer ini. Mengapa hal hal negatif Militernya saja yg muncul? Hal hal positifnya masih terpendam. Stabilnya menguap, walau kebebasan dibrangus. Kebebasan justru diberikan kepada para preman agama yang amit amit, mau bunuh orang saja bawa bawa agama. Ini seakan dibiarkan. Gereja dirusak dibiarkan. Bahkan diancam mau digulingkan juga dibiarkan…. Militer yang aneh.

Saya membayangkan Mariah Carey, ibunya kulit putih, bapaknya kaya Obama. Suaranya nurun dari bapaknya (negro terkenal suaranya gila gila), fisiknya jelas nurun dari ibunya. Hasilnya adalah magma.

Bukan nilai nilai positif dari kepemimpinan Militer dan sipil yang kelihatan, malah nilai nilai negatifnya. Tidak stabil tapi tak bebas.

Maaf, tulisan ini saya ketik pakai BB, koneksi internet PC saya masih ngadat. Jadi kalau agak agak diluar standart kerapian Traktor, harap Maklum
Artikel Yang Berhubungan Badan:


0 Response to "Adu Montok Mariah Carey vs SBY"

Posting Komentar

powered by Blogger | WordPress by Newwpthemes | Converted by BloggerTheme