DAMN! Saya Cabut dari Kompasiana!!!!




Saya baru disini, tapi saya melihat cukup banyak postingan yang menyatakan mundur dari Kompasiana.  Ada apa sebenarnya?  Apakah masalah verifikasi akun sangat mengerikan? Ataukah anda tipe manusia yang sukanya hit and run atau lempar bom sembunyi tangan? Atau, sadarkah anda tulisan tulisan menyatakan pengunduran diri yang bikin heboh itu berdampak buruk pada penulis pemula seperti saya?


Tentu saja saya tak berniat mundur.  Paling tidak untuk saat ini.


Namun saya melihat, seakan akan ada dua kubu di Kompasiana ini.  Penulis yang bersih dan penulis jorok.  Saya jelas masuk ke penulis jorok.  Tapi tak kurang, kalau saya lagi mood saya akan menuliskan hal hal yang bersih.


Jadi, bagi anda yang berniat mundur, sebenarnya permasalahan anda dengan Admin itu masalah pribadi anda. Benar, mungkin ada baiknya bila diketahui oleh member member lain tentang (menurut anda) sejauh mana ketidak-adilan Admin. Namun coba pertimbangkan sekali lagi.  Walaupun anda tidak bermaksud kampanye bersama sama memboikot Kompasiana, tapi efeknya bisa jadi seperti itu.


Anda sudah mengetahui efek itu, karena anda tuliskan, misalnya: saya tidak bermaksud jelek atau menjelek-jelekkan.


Nah, dari kalimat tersebut anda sudah tahu akan ada efek pembaca merasa tulisan anda menjelek-jelekkan Admin dan jajaran jajarannya. Sama seperti tulisan ini, ini akan menimbulkan efek saya sedang menjilat Admin.  Kalau tidak setuju dengan ide ide menyudutkan Admin, maka anda dianggap menjilat Admin.


Padahal, banyak sekali member Kompasiana yang tidak mau mundur.  Ini hanya membuktikan bahwa kami masih betah disini.  Sebenarnya tanpa membaca postingan postingan mengundurkan diri, kemudian komen komen mendukung pendapat yang mau mengundurkan diri, saya selama ini nyaman nyaman saja di Kompasiana.


Saya nakal. Tapi berusaha untuk memperhatikan rambu rambu yang ditetapkan. Itu saja.  Kompasiana tempat saya berekspresi lewat kata kata yang saya ketik pakai telunjuk saya sendiri.  Saya sering juga kok merasakan ketidak-adilan. Bahkan postingan saya pernah diremove admin.  Jujur saja.


Ceritanya begini.  Saya membaca sebuah postingan di TEREKOMENDASI dan setelah saya baca, hmm saya merasa pernah membaca artikel tersebut.  Saya buka buka ulang situs situs berita yang pernah saya baca.  Pas, ketemu! Ternyata dari Tempo Interaktif.  Sayang saya lupa judul tulisannya.  Saya juga sudah menemukan cara jitu.  Satu paragrap dari tulisan awal saya copas ke google lalu search.  Biasanya saya menemukan beberapa tulisan yang sama.  Namun, setelah saya lihat, penulisnya sama.  Alias orang yang sama.  Jadi yah... it's ok, bukan plagiat.


Kemudian, saya melakukan uji coba, saya bikin postingan copas, langsung dari Tempo Interaktif.  Pada tulisan berita yang berbentuk reportase itu tidak saya terakan sumbernya.  Dan... hehehehe, ajaib lolos.


Saya masih penasaran.  Saya bikin satu postingan lagi, persis cara pertama. Tapi saya terakan sumbernya, Tempo Interaktif.  Tak sampai 30 menit tulisan itu di remove.


Saya dapat teguran dari Admin.  Beres kan, saya mendapatkan ketegasan dari peraturan yang sudah saya baca dan coba mengerti.


Jadi ide saya begini.  Bila anda melihat sebuah kejanggalan.  Katakanlah sebuah perasaan diperlakukan tidak adil. Karna anda merasa dirugikan atau bla bla bla... setiap orang punya alasan sendiri.  Lalu bila mengikuti panas hati dan tidak mau berpikiran jernih.  Rasa ketidak adilan itu akan berubah menjadi gondok, ang butuh zodium untuk megobatinya. Zodiuamnya adalah pikiran anda.


Bagaimana mengempeskan gondok, sehingga tidak lagi bengkak dan sakit. Bukan memencet mencet gondok itu.


Anda sadar kok, bahwa anda memasuki rumah orang lain.  Artinya, Kompasiana ini walau milik Kompas, penghuninya pribadi pribadi tersendiri yang harus tunduk pada peraturan tuan rumah.


Selagi ide kreatif anda bisa disalurkan disini, mengapa mencari cari masalah?


Apa untungnya bergabung di Kompasiana? Ingin jadi populer? Maaf bos, saya punya tempat lain untuk menjadi populer.  Di Kompasiana ini, kadang memperlihatkan jati diripun tidak berani.  Ini kasus utamanya kan? verifikasi data.  Menulis sebagai hantu, tanpa mau diketahui orang lain anda siapa.


Tapi itu juga hak yang wajar.  Bahaya mengintai di dunia maya.  Sudah sering saya tuliskan.  Benar sekali tidak ada yang aman di internet.  Kompasiana juga tidak.  Bahkan, saya ulangi ya... FBI, CIA, NASA semua sudah pernah kebobolan.


Berteriak teriak agar HUKUM di Indonesia ditegakkan.  Namun untuk menjalankan Term and Condition yang sudah disepakati saja masih ngawur.  Harusnya segalanya dimulai dari diri sendiri.  Mudah mudahan, bila seluruh rakyat Indonesia taat hukum, sampai ke hakim hakim-nya, jaksa-jaksa nya, polisi-polisinya taat hukum.  Hukum akan tegak di Indonesia.


Di rumah kita sendiri juga ada hukum.  Misalnya, kamu tidak boleh merokok di kamar yang pakai AC.


Lalu kamu berantem sama Bapak yang punya Asma.  Kamu kemudian merasa keberatan.  Protes dan akhirnya hengkang.  Sebenarnya peraturannya jelas kok, bila anda ingin merokok, silahkan ke luar ke teras atau ke mana kek.... Tapi jangan ajak ajak anggota keluarga yang lain. Apalagi anak kos yang baru 1 bulan nginap.


Tentu saja postingan anda yang isinya pernyataan mau hengkang dari Kompasiana itu bukan ajakan untuk yang lain ikutan hengkang.  Tapi sekali lagi, menimbulkan perasaan tidak nyaman pada penghuni penghuni lain, apalagi yang baru baru seperti saya.  Jadinya ada tekanan bathin.  Apa iya ya? KTP sudah saya scan.  Pas Photo juga.


Tapi kemudian pikiran saya yang lain bilang.  Yah, kalau sampai bocor ke publik, saya akan tuntut Kompasiana. Kompasiana berani minta scan KTP dan pas Photo pasti juga sudah mempersiapkan seaman mungkin agar data data itu tidak terjamah tangan tangan jahil.  Nama besar Kompas Gramedia ada di belakangnya.


Kemudian lagi, bila pun KTP itu beredar. Syukurnya nama di KTP itu bukan Traktor Lubis.  Photo di KTP itu juga hitam putih dan agak buram.  Apa yang ditakutkan?


Ketakutan itu datang biasanya karna 2 hal.  Yang pertama memang paranoid.  Yang kedua karena berbuat salah atau gak benar.


Kalau merasa tidak menderita paranoid dan tidak macem macem di dunia maya, mengapa tidak?


Jadi, kalau memang anda yang berniat mengundurkan diri atau sudah mengundurkan diri atau dicekal Kompasiana dan anda merasa berteman dengan penulis penulis amatiran di Kompasiana ini, ajaklah untuk melakukan hal yang terbaik.  Berikan kesan baik pada kami. Buat kami merasa nyaman senyaman-nyamannya berekspresi di Kompasiana.  Sampai kemudian kami menjadi penulis besar yang akan berbuat begitu juga pada junior junior kami.


Kalau mau mundur, mundurlah dengan teratur.  Selesaikan semua permasalahn dengan Admin. Jangan memaksa penyelesaian masalah yang tidak bisa diselesaikan.  Setiap masalah ada penyelesaiannya, kalau tidak ada solusinya, itu berarti bukan masalah.


Udah ah.... bisa makin panjang ntar kalo saya lanjut.  Selamat menulis....


NB: Maaf kalau judulnya menipu.... hihihihi
Artikel Yang Berhubungan Badan:


4 Response to "DAMN! Saya Cabut dari Kompasiana!!!!"

  1. Hmm... gimana saya mau komentar untuk tulisan ini ya?

    Kalau bagi saya tulisan ini menarik bagi penulis YES MAN. Tapi tidak untuk penulis yang BENAR-BENAR mengekspresikan diri, spt mas Lubis tulis pada tulisan di atas:

    Kompasiana tempat saya berekspresi ...

    Tapi bagi saya pernyataan mas Lubis ini tidak sesuai dengan apa yang dijelaskan. Yang dinyatakan pernyataaan KEBEBASAN berekspresi (jangan dipahami secara sewenang-wenang). TAPI penjelasannya kebalikan. Untuk mencuri muka layaknya para Kompasianer bersih.

    Tapi saya tetap menghargai sikap dan pandangan mas Lubis. Seperti saya juga sangat menghargai pandangan saya sendiri.

    Hahaha... jangan marah ya.
    Ini soal pendapat. Soal yang lain? Saya sudah terima mas Lubis apa adanya. Selamat dan lanjutkan! Bravo!

    Traktor says:

    Btw, JUDUL nya yang meniru gaya EA, wakakakakaka

    Traktor says:

    Hahaha, makasih sudah komen.... maaf saya tadi sedang kombur kombur sama Tuhan. Jadi baru sekarang baca komen anda.

    Saya merasa bebas berekspresi kok di kompasiana. Saya bisa nulis topik apa saja. Nulis agama juga bisa, tapi saya akali dengan pos di FIKSI wekekekeke....

    Jadi, sejauh ini masih no problem.

    Saya menghormati keputusan EA. Saya sedang menyoroti orang yang mau cabut gara gara verifikasinya itu. hehehehe

    Andini says:

    Saya juga pendatang baru di kompasiana, setelah membaca tulisan ini

    http://edukasi.kompasiana.com/2011/11/13/mboko-rongo-mengucapkan-terima-kasih-semuanya-rip-13-november-2011/

    saya jadi ragu nulis di kompasiana

Posting Komentar

powered by Blogger | WordPress by Newwpthemes | Converted by BloggerTheme