Candu candu Marah


Marah, tentu saja bukan respon yang cerdas. Orang yang belajar untuk menjadi bijak akan selalu bisa memantulkan aura bahagianya dan tidak akan sering marah marah. Terutama pada hal hal yang tidakmasuk akal. Misal dalam hal hal yang kadang kadang yah walau menjengkelkan, sebenarnya tidak layak untuk di marah-marahin.

Pernah kan dalam kondisi tergesa gesa, nyetir mobil…. eh, lampu merah.

“Lampu brengsek…. kurang ajar…. Anjing!!! Kutu kupret….. Udah tau aku terlambat, dasar Babi…!!!”

Lalu, pernahkah memikirkan seperti ini. Bahwa lampu merah itu tidak semata-mata dibuat untuk menghambat anda yang lagi terlambat? Bahwa lampu merah itu yah memang seperti itu, gantian idup merah hijau kuningnya.

Atau istri anda begini;

“Kamu suami brengsek! Kamu tahu kita ada janji ke pesta. Kamu tidak boleh terlambat dan kamu malah mendahulukan urusanmu ketimbang aku…. Apa sih kau anggap aku…?’ huhuhuhuhu… mungkin marahnya pake sedu sedan.

Nah, istri yang selalu main perasaan dan jarang pake logika. Gak tau, bahwa suaminya dipaksa lembur ngepel satu kantor… hehehehehe…. Sementara si suami yang kerja banting tulang, udah berusaha mengenyahkan jengkel saat ngepel dengan pake goyang pantat… eh… sampe rumah malah kena semprot.

Atau begini:

“Kejam kali temanmu itu…. Katanya kalau sudah putus masih mau bisnis kopi. Masih mau berteman… Mampus lah kau…. Biar kuremove sekalian 4 FB mu…!”

Nah dalam kondisi ini, mungkin ada yang lupa soal profesionalisme. Dimana manapun bisnis butuh sebuah hal yang kita setujui bernama profesionalisme. Saya tidak apripori. Tapi dewasa ini di semua badan badan yang bergerak dalam bisnis. DIbutuhkan sebuah sikap yang harus, care ke pembeli. Customer service istilahnya. Jadi, mungkin saja klien kopi anda tidak lagi ingin melanjutkan bisnis kopi dengan anda, karena yah…. mungkin komunikasi yang terjadi tidak sehat. Atau anda terlalu merasa pasokan kopi anda sangat genting bagi si klien. Sementara di pihak lain, banyak pemasok kopi lain. Dalam bisnis yang sehat, transaksi dilakukan atas dasar permintaan dan penawaran. Bukan karena sempat atau gak sempat, suka atau gak suka, ilfill atau yah…. ke hal hal lain yang sama sekali tidak berhubungan dengan fisik.

Coba kita teliti kesini:

1. Apa yang anda harapkan dari sebuah lampu merah?

2. (untuk para istri) Apa yang anda harapkan dari seorang suami?

3. Apa yang anda harapkan dari seorang pembeli kopi?

Lampu merah, yah memenag seperti itu adanya. Kalau lampu merahnya, idup hanya untuk anda terlambat. Itu lampu merah pasti kena santet.

Suami… yah begitulah…. Suatu saat bila suami anda kena pecat. nganggur, sampe bantuin jaga anak… bantuin masak… anda para istri yang akan uring uringan.

Pembeli kopi yang baik, akan tidak mau buang buang waktu untuk hal hal lain yang bisa menghambat karir bisnis kopinya.

—–

dalam rangka mengungkapkan kemarahan anda, pertama tama anda harus mencari pembenaran bagi diri anda sendiri. Anda meyakinkan diri bahwa anda layak marah. Anda merasa marah itu layak, wajar tepat dan dalam kondisi ini, sebuah pengadilan sedang terjadi di benak anda.

Seakan akan anda adalah jaksa penuntut. Anda tahu mereka bersalah. Tapi suapaya adil anda harus membuktikan dulu kepad ahakimnya yaitu nurani anda. Anda mulai menuduhkan segala kejahatan masa silam, segala kedengkihan, sifat bermuka dua dan niat buruk dibalik semua perbuatan terdakwa. Anda meyakinkan hakim hati nurani anda, bahwa mereka tak layak dimaafkan.

Bila dalam pengadilan yang sebenarnya terdakwa tidampingi oleh seorang pengaraca. Maka dalam pengadilan bathin, anda tidak memperbolehkan pengacara banyak cin cong. Anda dalam proses yang bertujuan membenarkan marah anda. Kenapa anda marah… Anda tak ingin mendengarkan alasan alasan yang menyedihkan, penjelasan penjelasan yang tidak masuk akal. Yang tak dapat dipercaya. Rengekan rengekan cengeng mohon ampun terdakwa. Pengacara tak diizinkan membela terdakwa.

Dalam argumen yang berat sebelah ini, anda tengah membangun sebuah kasus yang meyakinkan. Dan itu sudah lumayan bagus. Hati anda mengetok palu dan memutuskan praas terdakwa “BERSALAH!”

Sekarang barulah kita merasa bahwa marah kepada mereka itu wajar. tidak apa apa.

Begitulah kondisinya kita mencari cari pembenaran, mengapa harus marah.

BIla saja dalam pengadilan anda, anda membiarkan pembela beraksi membela terdakwa. Anda membiarkan hati nurani yang sebagai hakim mendengar semua alasan-alasan, semua hal yang bisa meringankan terdakwa. Mungkin hati nurani anda bisa melihat, bahwa sebenarnya… terdakwa tidak terlalu bersalah amat. Bila pengacara di bathin anda dibiarkan bercerita membela terdakwa… mungkin anda bisa melihat, sebenarnya anda juga salah…

Kalau sudah seperti ini, mungkin marap sudah bisa diniatkan. Walau mungkin butuh 1 - 2 hari atau beberapa waktu lagi untuk menyampaikannya…. Maaf memang terkadang tertunda. Tapi, semoga tidak untuk selamanya. Kita semua bertambah usia setiap detik.

Dlaam sebua pengadilan bathin dimana anda marah pada si Kevin, coba dengar pembelaan pengacara si Kevin.

Mengapa si Kevin suka menulis hal hal yang membuat anda marah?

Sebanarnya si Kevin dari dulu dari jaman nyak lu masih perawan, memang sudah doyan nulis. Nulisnya juga untuk diri sendiri kebanyakan. Mau di like atau di hate juga gak ngaruh ke Kevin. Makanya kalau ada yang klik ‘like’ biasanya si Kevin gak pernah nanggapi. Tapi beda dengan yang komen, sebagai sopan santun, disapa orang yah seharusnya menyapa balik.

Si Kevin juga menuliskan hal hal yang kebanyakan apa adanya. Dia selalu menulis dengan hati. Menghindari kata kata bullshit yang klise klise. Tapi lebih suka ke kata kata yang mungkin saja kasar, walaupun benar. Dan dalam hal kebenaran, memang tidak semua orang bisa menerimanya.

Kemudian dan seterusnya. Tidak pernah si Kevin menulis sesuatu yang ditujukan pada sesuatu. Baik benda hidup atau benda mati. Namun, anehnya….. apa apa yang ditulis si Kevin bisa mengena kadang kadang ke lebih dari satu orang. Nendang di sini, kena disana… nyodok ke kiri… nyodok ke kanan.

Karena kita semua tahu, inilah kehidupan. Tulisan si Kevin adalah tentang kehidupan itu sendiri. mau anda tarik atau tidak pun, kalau anda baca dan mengerti… pasti kena ke anda… karena sama kan…. kita manusia yang punya dan melekat pada kehidupan.

“Satu hal yang sebenarnya membuat anda marah saat anda merasa dihinia…. adalah karena anda merasa jangan jangan anda memang begitu…..”

Artikel Yang Berhubungan Badan:


2 Response to "Candu candu Marah"

  1. setuju marah memang bukan solusi.
    lebih baik dengan pikiran dingin dan hati yang jernih untuk melahirkan solusi

    Traktor says:

    makasih mas

Posting Komentar

powered by Blogger | WordPress by Newwpthemes | Converted by BloggerTheme