Album I The Journey Of Gildor


Sekitar tahun 2003 saya ngumpul dengan beberapa pemain musik yang usianya diatas saya. Mereka adalah Bang Ipul, Bang Tian, Bang Zul, Pak Adek dan pak Edi. Lagu lagu yang dibawakan biasanya lagu lagu top 40 dan oldies. Saya kebagian nyanyi lagu lagu bule.

Pada saat itu saya adalah member yang paling junior.  Rata rata diantara mereka sudah punya pengalaman segudang tentang bermusik. Ada yang sudah sering manggung di Novotel. Ada yang pernah mengawal konser Anggun di Aceh, ada yang sudah ketemu Bill Saragih di Jakarta.

Jadi pada saat audisi saya ditanyai, "Sudah nyanyi di mana saja Vin?"

Jujur saya bengong sesaat, karena saya belum pernah nyanyi di depan publik. Maka dengan jujur pula saya jawab;

"Di kamar mandi lah bang...."

Lalu suasana mencair. Apalagi saat saya sudah menyanyikan lagu-lagu bule yang memang orang orang di Kisaran kurang berhasil membawakannya menurut saya. Permasalahan biasanya di spelling atau pengucapan.

Saat itu kami biasanya tampil di acara acara misal, ada rekan pemusik yang pesta kawinan (hehehehe) atau jadi bintang tamu festival rock atau pop anu. Namun yang membuat fase ini berarti adalah, selain main dengan 'band tua' saya juga ikutan dengan 'band muda'.

Hehehehe, selain abang abang tadi, yang biasanya latihannya malam, karena sudah pada gawe semua, di siang hari ada anak anak muda yang juga direkrut untuk main lagu-lagu top 40 yang lebih fresh. Kebetulan vocalis di band muda hanya cewek. Maka Opick yang sebelumnya sudah saya kenal, mengajak saya main di band muda dimana dia adalah gitarisnya.

Masa dengan band tua dan band muda ini tidak berlangsung lama. Saya di band tua biasanya bawain lagu lagu Queen seperti 'Under Pressure' atau 'Crazy Little Thing Called Love', 'All out of love', 'Unchained melody' dan lau lagu oldies lain.

Bubar dari jam session ini, saya muter otak untuk bisa tetap bermusik.

Maka saya merencanakan apa yang namanya home recording. Benar, saya pingin lagu lagu yang sebenarnya sudah pernah saya ajukan di band tua digarap dengan lebih serius. Tapi dulu lagu lagu tersebut ditolak mentah mentah.

Maka komputer Celeron 3 kepunyaan kantor saya (Dealer Daihatsu) saya ekspose habis habisan untuk bisa melakukan proses rekaman analog to digital.

Hasilnya tentu saja ancur lebur. Saya belajar terus. Beli Audio Pro, kemudian Chips apa saja tentang komputer dan digital recording saya baca. Waktu itu jangan mimpi internet.

Tahun 2003 saya ke Jakarta, dengan diantar keponakan, saya beli sound card Audigy Live di Glodok, harganya sekitar 800an ribu dulu. Kemudian setelah pulang, saya juga beli 1 unit computer. Sempat tukar motherboard. Yang pertama saya beli MB Asus karna katanya bagus dan fiturnya banyak. Namun ternyata proses rekamnya ada jedah sekian mili detik. Jadi, ketukan dan birama jadi ngacok.

Konsultasi ke toko komputer, akhirnya saya disarankan ganti MB dengan yang merk Intel. Pentium 4. Dengan ram hanya 256 SDR. Saya eksperimen sendiri dulu, rekam banyak dari kaset ke PC. Setelah yakin mulai menemukan format, saya mengajak teman teman di band muda yang mau membantu. Materi lagu saya sudah punya, tinggal cari partner untuk menentukan kord kord.

Disitu saya dikenalkan dengan Kuyek. Yang kemudian menjadi pemain musik yang paling tahu selera saya dimana. Banyak lagu yang kami hasilkan berdua. Kalau mau ditotal jendral, bisa ratusan. Bahkan beberapa belum sempat direkam.

Jadi, kami mengerjakan album I The Journey of Gildor.
Drum saya pinjam dari bang Firma, teman di Ampi yang dulunya juga pemusik. Kamar tidur saya saya rombak menjadi studio dadakan. Untuk meredam bumi agar jangan terlalu bergema, saya paku dari dinding yang satu ke dinding yang di seberangnya. Lalu saya ikat kawat, dan hamparkan selimut atau sprey tempat tidur. Pemain bawa sprey, begitulah prosesnya.

Hasilnya memang kalau didengar sekarang, yah, sekualitas rekaman live tahun 70an. Garasi banget deh. Suaranya terbang kesana kemari. Tapi kami pede. Rilis CD audio dan kaset. Transfer ke kaset saya lakukan manual dengan tape Polytron deck. Tentu saja, head perekamnya harus baru terus. Hehehehehe

Kalau penasaran ini hasil rekaman di album I yang paling beken:


Lagu Always you ini cukup beken. Terutama di RSPD, Radio Siaran Pemerintah Daerah Asahan - Sumut. Salah seorang penyiarnya Pak Alex adalah yang paling suka pada lagu ini. Sampai sekarang lagu ini masih wara wiri di radio lokal tersebut.

Pilihan pak Alex tidak salah. Lagu ini juga sempat menjadi featured di komunitas indie Metal esnips.com.



Lebih jauh lagi, Silent Bob manager Metal Community di esnips.com memposting Gildor di forum Metal:


Bagi saya pribadi, album I ini adalah awal segalanya.  Buruk dalam kualitas sound, namun sangat kuat dalam hal musik, lagu, lirik yang semua Inggris.  Dan disini Gildor benar benar tampil all out.  Geber skill abis abisan.  Sayang tekologi yang saya kuasai saat itu hanya N-track Studio, Nero Wave Editor.

  1. The journeys's never start
  2. Mama don't you cry - HipMetal
  3. I was born in this world alone
  4. Always you
  5. I don't know how
  6. Interlude - fortress of the doom
  7. Out of time
  8. I need you here, I need you near
  9. You never lonely
  10. Tears like a glass of bloof (baby try)
  11. The journey's never end
Artikel Yang Berhubungan Badan:


1 Response to "Album I The Journey Of Gildor"

  1. Unknown says:

    Mantap om

Posting Komentar

powered by Blogger | WordPress by Newwpthemes | Converted by BloggerTheme