ERIANTO ANAS VS TRAKTOR LUBIS DI KAKI GUNUNG FUJIYAMA




Oleh: Traktor Lubis dan Erianto Anas
Lokasi: Kaki Gunung Fujiyama - Jepang.  Peralatan: Traktor Lubis (Toya), Erianto Anas (Pedang) Asal: Traktor Lubis (Karang Setan), Erianto Anas (Karang Iblis) Produced by: FFK 2011 
© www.traktor.co.cc  and  www. blogernas.co.cc  

130039210843419188


Gunung Fujiyama selalu berkabut. Seperti misteri yang menyelimuti alam di sekitarnya. Sewaktu angin barat bertiup. Beberapa helai daun kering dari hutan membentuk pusaran pusaran kecil yang kadang tak telihat mata manusia yang rabun.

Plop….. seorang pendekar muda berperawakan gagah perkasa tiba tiba muncul sekonyong konyong dari udara.

“Hmmm… kelihatannya si Traktor belum muncul….” Begitu dia berguman sendiri.

Belum sempat gumannya berlanjut, seiring dengan cahaya matahari yang menerobos dari cela-cela daun.

Hupppppp….

Sesuatu menggelinding ke arahnya. Pendekar Anas menyambut…

“Selamat sore saudaraku… hormatku pada penghuni Karang Iblis…” Traktor menghaturkan sembah sebagai sopan santun dunia persilatan.

“Selamat sejahtera saudaraku Traktor…. Gelindingmu semakin kuat. Tenaga dalammu sudah dapat oli baru?” sambut Erianto Anas tak kalah hangatnya.

Kedua pendekar sakti berbeda bentuk itu sekarang berdiri. Berhadapan. Saling ambil kuda kuda. Memusatkan diri pada kekuatan alam.

“Siap…?”

“Siap…!”

Lalu keheningan melanda. Ini pertemuan silat pertama sejak yang pertempuran terakhir di Cadas Kompas purnama lalu. Keduanya mulai berbicara lewat angin. Lewat hembusan malam yang mulai menyapa. Lewat suara suara jangkring malam yang mulai muncul. Traktor Lubis buka suara.

“Master EA, kata orang tsunami Jepang adalah peringatan Tuhan pada manusia. Kemudian gejala gejala kerusakan alam juga sudah seperti yang dituturkan kitab kitab. Alias sudah diramalkan. Ini banyak menjadi pijakan orang orang dalam menanggapi bencana Alam. Bahkan pendekar sekelas Amin Rais waktu mengomentari Merapi Meleduk dulu juga berkomentar senada….”

“Ya saya bisa maklum. Itu kan dongeng yang paling laris” sambil menjentikkan sehelai daun kering, Erianto Anas berguman.

“Dongeng?” Traktor menatap tajam.

“Iya bagi saya itu dongeng. Kenapa?” Sabetan pedang Erianto Anas hampir mengenai sisi kanan tubuh Traktor.

“Maksudnya, kisah kisah yang menubuatkan kejadian kejadian sekarang itu dongeng?” Sambil mengelak, Traktor melenturkan toya nya ke kepala Erianto Anas.

“Semua kisah, cerita, dan tulisan itu bagi saya dongeng. Masak Tuhan seperti main catur dengan manusia atau alam. Lalu apa artinya hukum alam?Jawab Erianto Anas mengelak sambil melancarkan tendangan yang bisa berakibat maut bagi musuh musuhnya.

“Kejadian menjadi kisah - kisah menjadi sejarah - sejarah menjadi legenda - legenda menjadi dongeng - dongeng menjadi mitos. Saya kira ada sesuatu di balik dongeng dongeng itu” Traktor meloncat ke depan. Jaraknya tinggal 1 meter ke arah Erianto Anas.

“Dongeng tetap dongeng. Walaupun itu termasuk dongeng yang mulia. Karena ada hikmah buat perenungan dan instropeksi diri. Dan itulah kebudayaan. Tapi dalam konteks KAJIAN, bagi saya memisahkan antara dongeng dan kenyataan penting” Erianto melentingkan gagang pedangnya dengan tangan kiri. Toya dan gagang pedang itu bersentuhan di udara. Keras, meretakkan tulang.

Traktor yang mulai kewalahan mengambil nafas dalam, sambil memainkan jurus baru, “Yah tentu saja, bila dongeng diartikan sebagai kenyataan itu bakal jadi pincang. Tapi dongeng, legenda, mitos, selalu ada kisah nyata dibaliknya. Misalnya: dongeng sodom dan gomora. tentang kaum homosexual dan hal hal lain yang dinilai jahat secara tidak adil. Tapi ada fakta yang nyata” Satu helaan nafas, Traktor melanjutkan,:

”Pompeii adalah sebuah kota zaman Romawi kuno yang telah menjadi puing dekat kota Napoli dan sekarang berada di wilayah Campania, Italia. Pompeii hancur oleh letusan gunung Vesuvius pada 79 M. Debu letusan gunung Vesuvius menimbun kota Pompeii dengan segala isinya sedalam beberapa kaki menyebabkan kota ini hilang selama 1.600 tahun sebelum ditemukan kembali dengan tidak sengaja. Banyak fosil yang mempertontonkan adegan sodomi antara sesama laki-laki. Bahkan praktek fedofil terekam hidup hidup di kota tersebut. Bukankah ini melengkapi dongeng dongeng itu sebagai sesuatu yang tidak seharusnya dicap sebagai dongeng saja. Ada hal hal menarik yang bisa saja memang pernah terjadi di sana….” Traktor berputar putar diudara merontokkan apa saja yang ada di dekatnya, “Yang saya lihat justru, sangat naif bila dongeng dongeng itu dijadikan acuan ke masa depan. Karena dongeng itu yang sudah sangat tua” Dengan sekuat tenaga toyanya kini mengincar tulang kering Erianto Anas.

Erianto Anas kembali berkelit, “Lho mas Lubis ini gimana? Kok dibalik dongeng dikatakan ada kisah nyata? Kalau ada kisah nyata didalamnya itu namanya bukan dongeng, tapi fakta. Gimana nih?”

Traktor tetap tenang walau mulai kewalahan, “Kejadian menjadi kisah - kisah menjadi sejarah - sejarah menjadi legenda - legenda menjadi dongeng - dongeng menjadi mitos. Dan brown dan Tolkien berpendapat begitu, dan setelah saya raba ke pikiran saya, pendapat kaya gitu saya rasa masuk akal.

Hanya saya tidak setuju bila dongeng dijadikan sandaran ke masa depan. Seperti, bila ada bencana maka itu tanda tanda mau kiamat. Kemudian bila ada homo bikin acara juga tanda tanda mau kiamat. Padahal, kitab kitab itu menceritakan hal yang sebaliknya. Ribuan tahun. Dongeng nabi Nuh, dongeng sodom dan gomora. Kiamat tak datang juga.”

Erianto Anas menjerit nyaring, saat menusukkan pedangnya ke ulu hati Traktor, "Kejadian menjadi kisah - kisah menjadi sejarah - sejarah menjadi legenda - legenda menjadi dongeng - dongeng menjadi mitos."

Maaf kalimat ini bagi saya ngaco. Coba saya preteli itu kalimat. "Kejadian menjadi kisah". Bagi saya ini keliru. Kejadian ya kejadian, fakta. Kalau kisah itu cerita, fiksi. Terus "kisah menjadi sejarah". Ini bagi saya juga keliru. Yang namanya kisah ya cerita, fiksi. Kalau sejarah itu fakta yang telah berlalu. Sejarah jadi legenda. Nah ini juga sama. Legenda itu sesuatu yang diragukan kebenaran faktualnya. Apa iya apa tidak. Atau kenyataan masa lalu yang sudah dilebih-lebihkan atau dibumbui dibelakangan hari. Terus "legenda menjadi dongeng dan dongeng menjadi mitos". Kalau ini saya setuju. Legenda, dongeng, mitos ini hanya beda istilah. Intinya sama, yaitu sesuatu yg bukan kenyataan.

Itu soal KAJIAN ilmiah.
Tapi kalau dari sisi hikmah, walaupun itu cuma dongeng, kisah-kisah spt itu memang bisa menjadi hikmah atau sumber insspirasi. Tapi kalau saya tetap bedakan, mana yang dongeng dan mana yang fakta.

Makanya saya geli dengan semua slogan bahwa bencana ini itu sudah ada dalam Alquran, sudah ada dalam Alkitab dan sebaganinya”

Meleset sedikit, nyawa Traktor masih melekat, segera dia mencoba jurus lain. Kali ini ajian Traktor Menggilas Bumi, “Saya ambil rujukan ke Kitap Pararaton.
Fakta: ada begundal dari Jawa yang sukses merebut tampuk kekuasaan di Jawa. 
Kisah: Fakta dibumbui menjadi kisah, Ken Arok dan Ken Dedes. Ini bukan nama sebenarnya.
Sejarah: Kitab pararaton diyakini dikerjakan di jaman akhir Singosari - jaman Hayam Wuruk.
Legenda: Dari bumbu bumbu tersebut, bukti bukti kebesaran yang ditinggalkan menjadi legenda. Legenda Ken Arok sebagai titisan Batara Guru dsb. 
Dongeng: Pararaton memang kisah yang separoh dongeng. 
Mitos: salah satunya mitos tentang keris mpu Gandring.

Betul, cara memandang dongeng harus dibedakan dengan fakta. Dongeng tetap dongeng fakta tetap fakta. Hanya, banyak dongeng yang berpijak pada fakta fakta sejarah.

Misal, Jesus, Musa dan Muhammad adalah tokoh tokoh sejarah. Berbeda dengan Sun Go Khong yang saya rasa lebih berdasar dari kisah rakyat - Ramayana, khususnya tentang hanoman. Namun kisah ini bisa jadi berdiri atas fakta bagaimana (mungkin) di jaman purba, ada manusia bodoh (kera) yang sedang berusaha untuk menjadi sebijak manusia (pencerahan).

Soal semua bencana itu ada di Al Quran. Ini juga tidak sepenuhnya salah. Tetapi harap diingat. Hampir semua kitab suci dari agama mana saja juga menceritakan hal hal yang sama. Apakah kesamaan nubuat di kitab kitab itu kebetulan? Atau memang sudah seperti itu? Yang saya lihat justru di masalah tafsir. Sebuah kalimat dalam kitab suci bisa menimbulkan jutaan tafsir”

Erianto Anas tertawa keras saat telinga kirinya bergetar terkena pukulan Toya, “Haha.... ini dia masalah sastra. Bahan dasar sebuah karya sastra itu kan banyak. Ada yang murni imajinasi. 100 % khayal. Ada yang sudah dicampur antara kenyataan dengan imajinasi. Fifty fifty. Tapi asal sudah ada sisipan imajinasinya ya tetap disebut fiksi, sastra. Sepopuler apapun, ia tetap fiksi. Ini kunci bagi saya dalam memetakan persoalan. Jangankan kisah-kisah yang mas Lubis sebut, kisah-kisah dalam Itab suci agama, bagi saya banyak unsur sastra (fiksinya).

Apakah itu salah?
Ini bukan soal salah benar. Tapi soal pesan moral. Prinsip karya sastra itu adalah menyajikan pesan moral dibalik metafor. Apalagi kitab suci. Walaupun banyak ayatnya, tapi bila disimpulkan, bagi saya inti dari kitab suci adalah PESAN MORAL. Dan untuk meyampaikan pesan moral, bisa dengan banyak cara. Dan salah satunya dengan sastra.

Makanya banyak kita temukan dalam kitab suci kalimat2 yang "dalam" maknanya. Karena disajikan dengan gaya sastra yang padat.

Jadi saya tidak heran banyak hal-hal seperti itu ditemukan dalam KItab Suci, apapun kitab Sucinya. Inilah yang dkenal dengan metode penafsiran sastra dalam Hermeneutika. Walaupun metode penafsiran thd kitab suci itu cukup banyak.

Tapi masalahnya, umumnya umat beragama menjadikan Kitab Suci seperti mie instan. Begitu dibaca langsung ditelan. Makanya banyak yang amburadul pemhaman umat beragama. Dan resiko yang paling parah dari kasus ini adalah menjadi fundamentalisme agama, teroris!

BUTA SASTRA!
Ini problem terbesar sepanjang sejarah agama dari tinjauan sastra. Banyak tokoh spiritual, sufi, mistikus, dibunuh karena kata-katanya, karena puisi esoterisnya. Kenapa dibunuh? Karena yang baca buta sastra. Sebagai contoh, Al Hallaj berujar: "Akulah Kebenaran (Tuhan)". Lalu ulama syariat kebakaran jenggot dan memancung leher Hallaj di tiang gantungan.

Tapi mereka tidak tahu apa artinya ucapan ekstasis Hallaj. Kalau yang peka akan sastra, tentu Hallaj bukanlah Tuhan. Tapi Tuhan begitu hadir dan menguasai dirinya. Sehingga antara dia dan Tuhan seakan tak bisa dibedakan lagi. Persis bak sepasang kekasih yang dimabuk cinta. Ibarat Bulan, bagaimana memisahkan antara rembulan dengan cahaya bulan?

Jadi kembali ke soal semula. Dongeng tetaplah dongeng. Jika tujuan kita sebuah kajian ILMIAH, akui bahwa dongeng ya dongeng. Tapi bila maksud kita ingin memgambil hikmah, ya sebuah dongeng bisa menjadi sumber hikmah yang kaya makna.

Jadi penekanannya apa dan kemana. Jangan rancu. Ini yang penting bagi saya”

Kini Erianto Anas berdiri kokoh lagi setelah tadi mulai limpung terkena toya. Dia sudah bisa menyabetkan lagi pedangnya gang ganas.

Bila ilmu pedang Erianto Anas adalah ilmu yang mengandalkan kecepatan dan kelincahan. Terbalik dengan gaya Toya Traktor yang mengandalkan tenaga kuat dan gerak yang sekokoh traktor. Maka Traktor sekarang memutar mutar toyanya sekuat tenaga.

“Ok, kita kembali lagi. Begini yang saya lihat. Jadi ada 2 pendapat:

1. Ada dasar dasar fakta dari sebuah dongeng/mitos atau legenda
2. Ada Hikmah dari dongeng dongeng agama itu.

Saya ulas yang 1. Ada dasar fakta dari sebuah dongeng/mitos seperti di penjelasan penjelasan yang terdahulu. Dan anda menariknya ke ruang lingkup sastra. Bukankah legenda, mitos dan legenda itu bagian dari sastra rakyat ketika melihat, mengingat kejadian lampau. Atau ketidak mampuan menjelaskan sebuah fenomena (misal legenda Lara Jonggrang)

Lalu yang kedua. Hikmah atau nilai nilai yang kaya makna yang bisa diambil dari dongeng dongeng tersebut. Hmmmm, ini terlalu maksa saya kira. Karena, bukan hanya dari dongeng. Dari obrolan 2 orang gila sarap, sakit jiwa, kaya kita ini pun ada hikmah yang bisa diambil. Asal yang menyimaknya waras.

Kemudian lagi. Kalau kita melihat ke kitab kitab. Jesus, Muhammad, Sidharta... semuanya diceritakan melakukan hal hal yang dongeng banget. Jesus jalan jalan di atas air. Muhammad melakukan Iraq Mi'raj, lalu Sidharta, dari lahir saja udah muncul teratai di kakinya.

Apakah bukan justru kalau mau memakai kaca mata orang waras yang gila fakta, mereka itu terlihat tidak jauh beda dengan Harry Potter? penyihir cilik yang juga punya jutaan bahkan miliaran pengikut?

Saya jadi berkesimpulan begini:

Ada dongeng/mitos/legenda yang memang berdasarkan fakta. namun ada fiksi yang kemudian menjadi dongeng/mitos/legenda. Dongeng dongeng rakyat itu, baik yang murni rakyat, atau yang berbau propaganda agama, selalu punya hal hal lain di baliknya, yaitu didasari oleh kejadian kejadian yang benar benar pernah terjadi.

Namun ada juga yang murni sebagai fiksi. Saya kesulitan mencari contoh dari hal ini. Mungkin Gereja Maradonna bisa membantu”

Toya Traktor berhasil mengenai lengan kiri Erianto Anas yang kini luka dalam. Namun pundak Traktor juga tak luput dari Sabetan Pedang Erianto Anas.

“Yah apa yang mas ulas ini kan yang saya maksud? Memang cerita dongeng itu ada yang bersumber dari kenyataan tapi dibumbui dengan imajinasi atau unsur fiksi. Tapi secara keseluruhan tetap itu sebuah fiksi atau dongeng bukan. Misalnya ada certia EA terbang ke bulan. EA-nya fakta. Karena memang ada orangnya. Tapi dia terbang ke bulan, itu fiksi, imajinasi. Tapi dari cerita EA terbang ke bulan mgk ada pesan yang ingin disisipkan, sebagai pembelajaran moral.

Dan soal kisah-kisah Mistis-spiritual Yesus, Muhammad-Sidharta, itu bagi saya pengalaman bathin. Tapi untuk menceritakan dunia bathin tidak mungkin dengan bahasa dan perumpamaan yang lazim dikenali manusia. Tapi bila dipahami secara harfiah, makanya jadi lucu. Muhammad Mikraj itu dunia naik ke dunia Spiritual, dimensi mistik. Begitu juga dengan Sidharta dan Yesus.

Tapi itulah masalahnya, umat beragama akar rumput lebih surr dengan kisah-kisah ajaib dari pada jalur penalaran. Karena apa? Karena kisah-kisah yang menakjubkan, irrasional itu efek psikologisnya sangat kuat, impulsnya tinggi. Makanya Kenabian, atau kharisma seorang pembawa agama lebih mudah diterima umat jika pada dirinya banyak mukjizat (keanehan).

Tapi kenyataan membuktikan, semua cerita spt itu tidak memberi sumbangsih bagi perkembangan umat bergama. Tetap saja yang banyak berperan di lapangan kehidupan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi. Dan ini fakta. Kecuali bagi yang buta realitas”

Keduanya sudah mulai lelah. Malam juga sudah semakin gelap. Hanya purnama yang mengawasi gerak mereka. Seperti sepakat, keduanya segera mengakhir duel kali ini.

Sambil menghaturkan terima kasih, Traktor menegakkan toya-nya di samping tubuhnya, lalu dia berkata, “Kejadian menjadi kisah - kisah menjadi sejarah - sejarah menjadi legenda - legenda menjadi dongeng - dongeng menjadi mitos....Nah.... kalau begitu ini jadi masuk akal kan...

Jadi, ini bukan masalah hikmah. Karena dari orang bunuh-bunuhan pun ada hikmah.  Yang kadang kadang justru lebih melekat di benak daripada kisah kisah dongeng di kitab kitab. Tapi lebih kepada nalar orang memandang dongeng dongeng itu. Memijakkan gempa Jepang pada dongeng dongeng itu sah sah saja. Asal tahu apa maknanya. Tapi kalau sekedar mensuperiorkan, bahwa dongengku lebih bener dari dongengmu. Bahwa Jepang digoyang gempa sudah ada di dongengku.

Yah, dongeng dongeng agama semua agama punya.

Ada kebenaran dibalik dongeng. Hanya kadang memang orang hanya memandang itu sebagai dongeng saja. Lalu yang parahnya, mulai mendongengkan gempa Jepang yang benar benar fakta.

Bukankah dengan menubuatkan gempa Jepang sudah ada di dongeng dongeng itu berarti Gempa Jepang juga jadinya dongeng? Karena dongeng,  tetap saja yang di kitab kitab itu dongeng!”

Erianto Anas tertawa senang. Pertemuan satu purnama ini dirasakannya menggairahkan. Sama indahnya di setiap masa, maka diapun melengkapi, “Hahaha... ya itulah romantisme para jejaring pendongeng dan penggila dongeng. Titik pijaknya dongeng dan akhirnya memahami fakta juga sebagai dongeng. Dan saya pribadi benar-benar tidak surr. Bagi saya pandang dongeng sebagai dongeng dan fakta sebagai fakta. Ini pemisahan secara ilmiah. Eksak.

Tapi saya juga suka mendongeng dalam beberapa tulisan saya. Untuk apa? Untuk membungkus pesan yang ingin saya sampaikan agar lebih menyentuh sisi emosional pembaca.

Kenapa itu saya lakukan? Karena saya belajar dari metode dakwah kitab suci dan karya sastra. Tapi saya tetap mengakui bahwa semua itu dongeng. Tapi dongeng yang menyentuh kesadaran. Sayangnya bagi umat beragama akar rumput, ketika sebuah dongeng agama begitu luar biasanya, lalu itu menjadi titik pijak bagi mereka untuk menganggap itu sebagai bukti kebenaran faktual sebuah kisah atau KItab suci benar-benar dari Tuhan. Atau paling benar.

Dan sikap saya?
Agama, kitab suci, adalah fenomena kebudayaan. Dinamika pencarian manusia akan makna hidup. Dan itu normal, manusiawi. Karena manusia memang mahluk pencari makna. Yang tidak normal bagi saya, menganggap agama, kitab suci dan Tuhan sebagai fenomena empirik, seolah-olah nyata. Padahal kenyataannya semua itu hanya imajinasi, dunia inspirasi, dunia mistis (bukan dukun ya)”

Traktor sama gembiranya. Dia tak lagi penasaran pada kemajuan ilmu silat masing masing. “Jadi, 'dongeng' dengan tanda petik tidak bisa disamakan sebagai dongeng yang telanjang. Sebaik apapun dongengnya tetap dongeng. Ini lari ke paham realistik. Yang tidak mau menerima sebuah dongeng begitu saja, walaupun dongeng dongeng itu pakai embel embel 'suci' sampai kalau dibakar bisa lebih menyakitkan daripada badan yang dibakar.... ini juga dongeng. Tetep saja lebih sakit tangan yang kesundut rokok”

“Baiklah saudaraku Pendekar Sakti dari Karang Iblis, Erianto Anas yang kesohor…. Ilmumu tidak surut malah bertambah tinggi. Tenagamu juga semakin besar walau usiamu semakin tua… Kuharap ini bukan pertemuan terakhir… Purnama besar yang akan datang, kita bertanding lagi”

“Aku terima tantanganmu saudaraku Pendekar Gila dari Karang Setan, Traktor Lubis yang tak pernah kekurangan Oli. Semoga semakin sehat mesinmu, semakin lancar jalanmu. Tenagamu bertambah besar. Ambisimu juga semakin stabil… Harapku purnama depan kita bertemu lagi….”

Lalu seperti sudah sepakat. Keduanya menghilang begitu saja. Hampir tak kelihatan mata telanjang. Hanya meninggalkan bekas bekas gempuran di sana sini.

Hutan kembali sunyi. Gunung Fujiyama  masih tetap misteri.

Salam - Traktor Lubis

Artikel Yang Berhubungan Badan:


5 Response to "ERIANTO ANAS VS TRAKTOR LUBIS DI KAKI GUNUNG FUJIYAMA"

  1. Anonymous says:

    wuahahahahahahaaaa... diungsikan kemari rupanya yaaa :-)
    (ER)

    Traktor says:

    Anomim: ya begitulah....

    Onani says:

    Kalau saya perhatikan, Mas Traktor ini mirip dengan Bagus Netral... :D

    jaturampe says:

    kalau ini sih memang petarungan dari pendekar-pendekar yang sama-sama berimbang dan banyak menguasai jurus memikat, hehehehe. Tinggal saya yang memungut remahan-remahan roti yang tercecer kemudian menjadi dijadikan saripati yang bergizi tinggi, hahaha..terimakasih master!

    Traktor says:

    Onani: Cakepan saya dikit lah... saya mirip Antonio Banderas juga soalnya... hihihihi

    Juru tempe: makasih sudah mampir...

    Kalau ada topik bagus yang meransang debat, debat saja... nanti di editing dengan seni editor, bisa jadi fiksi kaya gini, hidup dan mengalir dan penuh isi... asik... sudah sering EA saya jebak kaya gini! Wakakakakaka

Posting Komentar

powered by Blogger | WordPress by Newwpthemes | Converted by BloggerTheme