Saya Akan Perangi Kafir Kafir Itu!

Sebenarnya ini sudah saya tuliskan kemaren di komen saya pada salah satu tulisan tentang perbuatan anarkis yang dilandasi (seakan-akan) oleh kitab suci. Intinya di istilah kafir.

Saya tidak bisa menerima begitu saja dengan maksud yang lugu atas kata kafir ini. Menurut saya, pada semua agama ada kisah tentang pihak pihak yang harus dihancurkan, dimusnakan. Sebagai contoh di keyakinan saya, ada mara yang dianggap sebagai pihak yang harus dihilangkan, untuk mencapai keselamatan, kesadaran dan kesempurnaan.

Agak sukar saya memahami dengan otak saya yang terbatas ini bagaimana sebuah kitab suci yang terinpsirasi dari Tuhan itu sendiri bisa menganjurkan pemusnahan pada pihak yang bersebrangan.  Misalnya para kafir dan mara.

Namun saya juga tidak menemukan alasan, mengapa harus menolak? bukankah itu yang tertulis?
Lalu saya juga melihat kembali, bahwa yang tertulis kadang kadang bukan itu yang seharusnya terbaca. Di The Last Symbol-nya Dan Brown, saya suka kalimatnya, "sama sama membaca kitab kubaca hitam, kau baca putih"

To the point saja, pembukaannya sudah selesai saya kira.  Analogika saya begini:

============

Kafir/mara = hal hal yang harus dibunuh! dipenggal! diperangi! dimusnahkan.
Hal hal yang harus dibunuh! dipenggal! diperangi! dimusnahkan. = Hawa Nafsu itu sendiri.

============

Akhirnya saya merasa lega, walau semalam terus terang agak kepikiran dengan komen spontan saya semalam. Saya setuju dengan pembunuhan, pemenggalan, peperangan, pemusnahan terhadap para kafir, para mara.  Saya setuju manusia memerangi hawa nafsu itu sendiri.

Bagi saya kafir dan mara itu adalah metafora.  Mengingat kemenangan paling besar adalah peperangan melawan kafir dan mara yang bersemayam di sanubari kita sendiri. Iblis yang sesungguhnya berada di tengah tengah kita. Kafir sesungguhnya yang harus kita lawan. Mara dengan selaksa tenteranya yang bermaksud menggagalkan misi seorang anak manusia yang sedang mencari kebenaran.

Mari memburu kafir, kalau dia sudah kalah tawan dia agar tidak bersemayam lagi.  Mari memerangi hawa nafsu, kalau sudah tertangkap, tawan hawa nafsunya, jangan sampai berkuasa lagi.


Artikel Yang Berhubungan Badan:


3 Response to "Saya Akan Perangi Kafir Kafir Itu!"

  1. Est says:

    Sebuah tulisan di dalam Kitab Suci, dapat secara jelas dibedakan mana yang perintah, mana yang metafora. Pada umumnya, karena nurani menolak perintah, maka serta merta diklaim sebagai metafora, itu jalan yang paling cepat dan aman untuk meredam gejolak tuduhan hati... haha, coba baca lagi kitabnya bang.. itu sifatnya perintah apa metafora?

    Traktor says:

    Hehehehe, waktu nulisnya, apa penulisnya ngerti mana yang perintah mana yang metafora? itukan ilmu bahasa modern... hihihihi jadi, yah kitanya yang harus bijak menanggapinya...

    Est says:

    Smart answer...

Posting Komentar

powered by Blogger | WordPress by Newwpthemes | Converted by BloggerTheme